- Diposting oleh : SMA Regina Caeli
- pada tanggal : September 04, 2026
Acara dibuka oleh MC, Ms. Ita, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Regina Caeli. Setelah itu, Mr. Jefri memimpin doa pembuka sebagai ucapan terima kasih sekaligus memohon kelancaran kelancaran kegiatan. Kegiatan ini dihadiri oleh orang tua murid kelas X–XII, Ketua Yayasan Bina Muda Regina, Kepala SMA Regina Caeli, serta seluruh guru SMA Regina Caeli.
Dalam perayaannya, Ketua Yayasan Bina Muda Regina, Mr. Agus, menyampaikan penghargaan kepada seluruh orang tua yang hadir dan memberikan perhatian besar terhadap perkembangan anak-anak mereka. Beliau juga menyampaikan kepada para murid SMA Regina Caeli menunjukkan perkembangan yang baik dari waktu ke waktu. Mr. Agus menegaskan hasil psikotes bukanlah sebuah vonis ataupun penentu masa depan anak. Hasil asesmen yang diterima orang tua merupakan gambaran kondisi dan potensi yang dimiliki setiap murid pada saat asesmen dilakukan, sehingga perlu dipahami sebagai bahan refleksi dan pendampingan, bukan sebagai label yang membatasi perkembangan anak.
Sesi utama dipandu oleh Ahmad Suhaemi, S.Psi., atau yang akrab disapa Pak Helmy dari LPT Grahita Indonesia. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan asesmen yang digunakan menggunakan metode PMPO ( Projective Multi Phases Orientation ) , yaitu metode asesmen psikologis yang dirancang untuk mengukur berbagai aspek perkembangan individu secara lebih komprehensif. Metode ini dikembangkan untuk mengungkap ingatan bawah sadar, meminimalkan bias selama proses tes, serta memberikan gambaran psikologis yang lebih mendalam terhadap peserta asesmen.
Pak Helmy kemudian menjelaskan bagian-bagian penting dalam laporan hasil asesmen. Pada aspek keterminatan dan fakultatif, orang tua diajak memahami bidang minat dan kesiapan pengembangan yang dimiliki anak sesuai jenjang kelasnya. Selain itu, dipaparkan mengenai tiga kemampuan dasar yang menjadi fondasi perkembangan intelektual, yaitu logika, aritmatika, dan persepsi. Aspek ketiga tersebut membantu menggambarkan cara anak memahami informasi, memecahkan masalah, serta menyerap pembelajaran di sekolah.
Pembahasan berikutnya fokus pada tingkat perkembangan intelektual (IQ). Pak Helmy menjelaskan perkembangan intelektual dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain keturunan, nutrisi, kesehatan mental, penggunaan gawai, serta lingkungan belajar. Oleh karena itu, hasil IQ perlu dipahami secara utuh dengan mempertimbangkan gaya belajar dan kondisi perkembangan masing-masing anak.
Orang tua juga memperoleh penjelasan mengenai teknik pengajaran yang ideal berdasarkan karakteristik belajar anak. Metode pembelajaran stress simultan yang dilakukan secara rutin dan berulang, sedangkan metode stress stratum variasi pembelajaran yang bertahap dan tidak monoton. Dengan memahami pola ini, orang tua diharapkan dapat mendampingi proses belajar anak secara lebih efektif di rumah.
Materi yang paling menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai pola belajar dan pendampingan karakter. Dalam sesi ini dijelaskan berbagai tipologi pola belajar, seperti analistik, sintetik, teknokratis, didaktik, struktural, eksploratif, strategis, hingga artistik. Setiap pola memiliki karakteristik dan pendekatan belajar yang berbeda sehingga memerlukan strategi pendampingan yang sesuai. Selain itu, orang tua diajak memahami berbagai aspek kebutuhan emosional anak, seperti prestasi, otonomi, kerja sama, dominasi, keajegan, hingga agresivitas. Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut diharapkan membantu orang tua membangun komunikasi yang lebih positif dengan anak dan menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan mereka.
Dalam sesi tanya jawab, para orang tua menunjukkan antusiasme yang tinggi. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah kemungkinan perubahan hasil psikotes dari waktu ke waktu. Menangapi hal tersebut, Pak Helmy menjelaskan hasil asesmen dapat berubah seiring pengalaman hidup, lingkungan sosial, maupun pengaruh dunia digital yang dialami anak. Oleh karena itu, hasil asesmen perlu dilihat sebagai gambaran kondisi saat ini dan bukan sesuatu yang bersifat permanen.
Pertanyaan lain berkaitan dengan penggunaan hasil psikotes untuk menentukan program studi di perguruan tinggi. Pak Helmy menjelaskan pola belajar tidak secara langsung menunjukkan profesi atau jurusan yang harus dipilih anak. Namun demikian, data pada bagian kesiapan fakultatif dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam membantu anak merencanakan pendidikan lanjutan sesuai potensi dan minatnya.
Orang tua juga menanyakan hasil asesmen yang mengalami perubahan signifikan dibandingkan asesmen sebelumnya. Dalam penjelasannya, Pak Helmy menjelaskan perubahan tersebut merupakan hal yang wajar karena perkembangan psikologis dan emosional anak terus berlangsung, terutama pada masa remaja yang sedang mencari jati diri. Beliau menegaskan data asesmen terbaru menjadi acuan yang lebih relevan untuk memahami kondisi anak saat ini, sekaligus menjadi bahan refleksi bersama bagi keluarga dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Kontributor: Ms. Herlan (Guru Matematika SMA RC)
